Hari selasa tanggal 23 september 2014
Dihari selasa itu bener-bener baru bgt . Temen baru suasana baru dosen baru matkul baru baju baru juga kayaknya hehe . Nah ada mata kuliah softskill nih di hari selasa itu nama dosen nya Ibu Ira Phajar . Orang nya tegas bgt asik . Bu ira nganggep anak muridnya udh kaya temen gitu biar makin pada akrab . Enak banget deh kalo dia nerangin santai gitu tpi bisa masuk ke otak deh . Bu ira juga ngasih motivasi yg sangat membangun tentunya bagi kelas 2ka13 tercinta . Dan inilah opini saya terimakasih.
Nama : Dendry renovaldio
Kelas : 2ka13
NPM : 12113164
Kamis, 09 Oktober 2014
Kamis, 24 Juli 2014
Menghayati Pancasila sebagai Pandangan Hidup Dalam Bermasyarakat dan Bernegara
Latar Belakang Masalah
Pandangan hidup adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap orang, begitu juga dengan berbangsa dan bernegara. Suatu negara harus memiliki pandagan hidup agar negara tersebut dapat berdiri dengan kokoh dengan tujuan yang jelas.Indonesia memiliki Pancasila yang dibuat dengan tujuan agar masyarakatnya mengikuti setiap nilai-nilai yang terdapat didalam Pancasila. Tidak hanya untuk diikuti tapi juga diterapkan dan dijadikan sebagai dasar dan pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka masalah yang muncul kemudian adalah:
1. Gejala-gejala apa saja yang akan timbul apabila kita menyikapi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
2. Apa pengaruh Pancasila dalam kehidupan bermaysrakat?
Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan baru yang mendasar dan menyeluruh mengenai cara memahami dan menyadari pentingnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dan bersikap positif terhadap nilai-nilai luhur itu dalam kehidupan sehari-hari.
PEMBAHASAN
Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Kehidupan berbangsa pada dasarnya adalah cara hidup berbangsa. Dalam hal ini, merujuk pada cara hidup yang menampilkan perilaku membina, memperbaiki, dan membangun bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
Adapun tantangan hidup berbangsa, yang datang dari dalam bangsa Indonesia sendiri, antara lain adalah munculnya gejala seperti:
· Kecenderungan mementingkan kelompok sendiri (primordialisme),
· Lunturnya sikap cinta tanah air dan cinta bangsa sendiri; menipisnya solidaritas dengan sesame warga sebangsa.
Sedangkan ancaman hidup berbangsa, yang datang dari luar bangsa Indonesia, antara lain adalah munculnya gejala seperti:
a. Derasnya arus informasi dan budaya asing yang tidak sesuai dengan jati-diri budaya bangsa;
b. Adanya upaya-upaya asing untuk memecah belah persatuan bangsa
c. Adanya kejahatan lintas negara yang dapat merusak kehidupan bangsa seperti terorisme, narkoba, dan perdagangan manusia.
Tanpa identitas dan nilai-nilai bersama, bangsa Indonesia akan makin tercerai berai akibat makin menggejalanya sikap kesukuan (primordialisme) dan gempuran budaya asing.
Identitas dan nilai-nilai bersama itulah yang disediakan oleh Pancasila. Melalui Pancasila, seluruh warga bangsa yang memiliki latar belakang beragam itu bisa menghayati kebersamaan.
Kehidupan bernegara pada dasarnya adalah cara hidup bernegara. Dalam hal ini, merujuk pada cara hidup yang menampilkan perilaku membina, memperbaiki dan membangun negara berdasarkan Pancasila. Cara hidup seperti itu meliputi, antara lain kesediaan untuk:
a. Menjaga dan mempertahankan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. Menggunakan hak dan melaksanakan kewajiban sebagai warga negara;
c. Berpartisipasi dalam berbagai proses dan tahapan penyelenggaraan negara secara bertanggung jawab.
Adapun tantangan hidup bernegara yang datang dari dalam negara Indonesia sendiri, antara lain adalah munculnya gejala, seperti:
· Kecenderungan mementingkan daerah sendiri (regionalism/daerahisme);
· Korupsi yang merajalela di berbagai sector kehidupan negara;
· Masih rendahnya kesadaran hukum di kalangan penyelenggara negara maupun masyarakat;
Pancasila dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen sebagai dasar pengelolaan negara, baik melalui kegiatan pengelolaan negara yang dilakukan oleh penyelenggara negara maupun partisipasi warga negara.
Pancasila Dalam Kehiduapan Bermasyarakat
Masyarakat Indonesia ditandai oleh keanekaragaman, baik keanekaragaman yang bersifat vertical maupun horizontal.
Keanekaragaman dalam dimensi vertical berarti keragaman masyarakat berdasarkan kekuasaan, dan ekonomi.
Sedangkan keanekaragaman dalam dimensi horizontal berarti keragaman masyarakat berdasarkan budaya. Keanekaragaman masyarakat dalam dimensi horizontal ini sering disebut dengan istilah masyarakat majemuk.
Konflik dalam masyarakat majemuk tak jarang menyangkut nilai-nilai dasar masyarakat. Dalam konflik semacam itu, para pelaku konflik umumnya melihat konflik sebagai ‘pertikaian habis-habisan’.
Jadi, harus disadari bahawa kondisi keanekaragaman masyarakat Indonesia di satu sisi merupakan kekayaan; namun disisilain, potensial menimbulkan konflik. Bahkan, potensi tersebut telah berkali-kali muncul menjadi kenyataan.
Keanekaragaman Indonesia ternyata berpotensi menimbulkan konflik. Pancasila berfungsi perlu didayagunakan. Dalam hal ini, Pancasila berisi nilai-nilai dasar sebagai landasan untuk mewujudkan kesatuan masyarakat.
Pancasila perlu diresepkan oleh segenap warga masyarakat, sehingga mewarnai kehidupan konkret dalam bermasyarakat. Dengan begitu, kehidupan sehari-hari berbagai kelompok masyarakat makin menjauh dari kecenderungan alamiahnya, yaitu memupuk perasaan in-group, etnosentrisme, dan eksklusivme.
Dengan demikian, meresepkan Pancasila berarti menyadari, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama di masyarakat, sesuai dengan tantangan zaman.
Adapun tantangan yang cukup menonjol dalam kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini, sebagaimana bisa kita ketahui dari pemberitahuan media massa, terutama adalah lima hal berikut:
a. Masih lemahnya kesediaan berbagai kelompok untuk menghargai keanekaragaman masyarakat;
b. Adanya gejala pemaksaan kehendak oleh beberapa kelompok masyarakat kepada ;
kelompok lain, kadang melalui kekerasan dan tindakan anarkis;
c. Masih kurangnya wadah untuk mewujudkan dialog dan kerja sama natarkelompok masyarakat demi terciptanya harmoni;
d. Masih banyaknya kelompok masyarakat miskin dan pengangguran;
e. Kepedulian sosial masyarakat kaya terhadap masyarakat miskin belum memadai, sehingga memunculkan kecemburuan sosial.
Kelima tantangan tersebut menjadi ujian bagi masyarakat Indonesia dalam meresapkan Pancasila.
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah memperhatikan isi dalam pembahasan di atas, maka dapat tarik kesimpulan sebagai berikut:
Pancasila berfungsi sebagai paradigma pembanguan, yaitu sebagai acuan, kiblat dan pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan. Kehiduapan bernegara pada dasarnya adalah cara hidup berbangsa. Dalam hal ini, merujuk pada cara hidup yang menampilkan perilaku membina, memperbaiki, dan membangun bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Masyarakat Indonesia ditandai oleh keanekaragaman, baik itu keanekaragaman dalam dimensi vertical maupun horizontal
REFERENSI
Franz Magnis-Suseno. 2001. Kuasa dan Moral. Jakarta : Gramedia
A.M.W. Pranarka. 1985. Sejarah Pemikiran Tentang Pancasila. Jakarta: CSIS
Sapto. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan SMP/MTS Kelas VIII. Jakarta: PT. Phibeta Aneka Gama
DENDRY RENOVALDIO
12113164
1KA07
Prinsip Moral Untuk Membentuk Pribadi Yang Kuat
Latar Belakang Masalah
Dengan berkembang pesatnya dunia teknologi dan di tuntut untuk menjadi pribadi yang intelektual, prinsip moral pun di perlukan untuk menjadikan pribadi yang kuat dan intelektual, moral merupakan ajaran baik atau buruk mengenai suatu perbuatan dan ide – ide mengenai tingkah laku hidup. Dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Seseorang dikatakan bermoral apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai – nilai norma yang di junjung tinggi oleh masyarakat. Nah permasalahan nya moral pada era sekarang era globalisasi ini telah menyimpang dari ajaran ‘ agama dan tingkah laku di masyarakat, sekarang cenderung mengikuti budaya – budaya barat, di bandingkan dengan budaya indonesia yang bisa dikatakan unik dan beragam ini,
Pembahasan
Bagaimana menjadikan pribadi yang kuat dan memiliki prinsip moral yang kuat?
PRINSIP-PRINSIP MORAL DASAR
Pengertian Moral
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai (1) prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. (2) kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. (3) ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik.
Untuk mengukur tindakan manusia secara moral, Tolak ukurnya adalah Prinsip-Prinsip Moral Dasar, berikut ini adalah prinsip-prinsip dari moral dasar tersebut :
a. Prinsip Sikap Baik
Kesadaran inti utilitarisme ialah bahwa kita hendaknya jangan merugikan siapa saja, jadi bahwa sikap yang dituntut dari kita sebagai dasar dalam hubungan dengan siapa saja adalah sikap yang positif dan baik. Prinsip utilitarisme, bahwa kita harus mengusahakan akibat-akibat baik sebanyak mungkin dan mengusahakan untuk sedapat-dapatnya mencegah akibat-akibat buruk dari tindakan kita bagi siapa saja yang terkena olehnya memang hanya masuk akal, kalau sudah diandaikan bahwa kita harus bersikap baik terhadap orang lain.
Dengan demikian prinsip moral dasar pertama dapat kita sebut prinsip sikap baik. Prinsip itu mendahului dan mendasari semua prinsip moral lain. Baru atas tuntutan dasar ini semua tuntutan moral lain masuk akal. Kalau tidak diandaikan bahwa pada dasarnya kita harus bersikap positif terhadap orang lain.
Prinsip ini mempunyai arti yang amat besar bagi kehidupan manusia. Hanya karena prinsip itu memang kita resapi dan rupa-rupanya mempunyai dasar dalam struktur psikis manusia, kita dapat bertemu dengan orang yang belum kita kenal tanpa takut. Karena sikap dasar itu kita dapat mengandaikan bahwa orang lain tidak akan langsung mengancam atau merugikan kita. Karena sikap dasar itu kita selalu mengandaikan bahwa yang memerlukan alasan bukan sikap yang baik melainkan sikap yang buruk. Jadi yang biasa pada manusia bukan sikap memusuhi dan mau membunuh, melainkan sikap bersedia untuk menerima baik dan membantu. Oleh karena itu berulang kali kita dapat mengalami bahwa orang yang sama sekali tidak kita kenal, secara spontan tidak membantu kita dalam kesusahan. Andaikata tidak demikian, andaikata sikap dasar antar manusia adalah negatif, maka siapa saja harus kita curigai, bahkan kita pandang sebagai ancaman. Hubungan antar manusia akan mati.
b. Prinsip Keadilan
Masih ada prinsip lain yang tidak termuat dalam utilitarisme, yaitu prinsip keadilan. Bahwa keadilan tidak sama dengan sikap baik, dapat kita pahami pada sebuah contoh : untuk memberikan makanan kepada seorang ibu gelandangan yang menggendong anak, apakah saya boleh mengambil sebuah kotak susu dari sepermarket tanpa membayar, dengan pertimbangan bahwa kerugian itu amat kecil, sedangkan bagi ibu gelandangan itu sebuah kotak susu dapat berarti banyak baginya. Tetapi kecuali kalau betul-betul sama sekali tidak ada jalan lain untuk menjamin bahwa anak ibu itu dapat makan, kiranya kita harus mengatakan bahwa dengan segala maksud baik itu kita tetap tidak boleh mencuri. Mencuri melanggar hak milik pribadi dan dengan demikian keadilan. Berbuat baik dengan melanggar hak pihak ketiga tidak dibenarkan.
Hal yang sama dapat juga dirumuskan dengan lebih teoritis : Prinsip kebaikan hanya menegaskan agar kita bersikap baik terhadap siapa saja. Tetapi kemampuan manusia untuk bersikap baik secara hakiki terbatas, itu tidak hanya berlaku pada benda-benda materiil yang dibutuhkan orang : uang yang telah diberikannya kepada seseorang pengemis tidak dapat dibelanjakan bagi anak-anaknya sendiri; melainkan juga dalam hal perhatian dan cinta kasih : kemampuan untuk memberikan hati kita juga terbatas! Maka secara logis dibutuhkan prinsip tambahan yang menentukan bagaimana kebaikan yang merupakan barang langka itu harus dibagi. Prinsip itu prinsip keadilan.
Adil pada hakekatnya berarti bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Dan karena pada hakekatnya semua orang sama nilainya sebagai manusia, maka tuntutan paling dasariah keadilan ialah perlakuan yang sama terhadap semua orang, tentu dalam situasi yang sama. Jadi prinsip keadilan mengungkapkan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama dan untuk menghormati hak semua pihak yang bersangkutan. Suatu perlakuan yang tidak sama adalah tidak adil, kecuali dapat diperlihatkan mengapa ketidak samaan dapat dibenarkan (misalnya karena orang itu tidak membutuhkan bantuan). Suatu perlakuan tidak sama selalu perlu dibenarkan secara khusus, sedangkan perlakuan yang sama dengan sendirinya betul kecuali terdapat alasan-alasan khusus. Secara singkat keadilan menuntut agar kita jangan mau mencapai tujuan-tujuan, termasuk yang baik, dengan melanggar hak seseorang.
c. Prinsip Hormat Terhadap Diri Sendiri
Prinsip ini mengatakan bahwa kita wajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai suatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Prinsip ini berdasarkan faham bahwa manusia adalah person, pusat berpengertian dan berkehendak yang memiliki kebebasan dan suara hati, makhluk berakal budi. Oleh karena itu manusia tidak pernah boleh dianggap sebagai sarana semata-mata demi suatu tujuan yang lebih lanjut. Ia adalah tujuan yang bernilai pada dirinya sendiri, jadi nilainya bukan sekedar sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud atau tujuan yang lebih jauh. Hal itu juga berlaku bagi kita sendiri. Maka manusia juga wajib untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan hormat. Kita wajib menghormati martabat kita sendiri.
Prinsip ini mempunyai dua arah. Pertama dituntut agar kita tidak membiarkan diri diperas, diperalat, diperkosa atau diperbudak. Perlakuan semacam itu tidak wajar untuk kedua belah pihak, maka yang diperlakukan demikian jangan membiarkannya berlangsung begitu saja apabila ia dapat melawan. Kita mempunyai harga diri. Dipaksa untuk melakukan atau menyerahkan sesuatu tidak pernah wajar, karena berarti bahwa kehendak dan kebebasan eksistensial kita dianggap sepi. Kita diperlakukan sama seperti batu atau binatang. Hal itu juga berlaku apabila hubungan-hubungan pemerasan dan perbudakan dilakukan atas nama cinta kasih, oleh orang yang dekat dengan kita, seperti oleh orang tua atau suami. Kita berhak untuk menolak hubungan pemerasan, paksaan, pemerkosaan yang tidak pantas. Misalnya ada orang yang didatangi orang yang mengancam bahwa ia akan membunuh diri apabila dia itu tidak mau kawin dengannya, maka menurut hemat saya sebaiknya diberi jawaban “silahkan!” dengan resiko bahwa ia memang akan melalukannya (secara psikologis itu sangar tidak perlu dikhawatirkan; orang yang sungguh-sungguh untuk membunuh diri biasanya tidak agresif). Adalah tidak wajar dan secara moral tidak tepat untuk membiarkan dia diperas, juga kalau kita mau diperas atas nama kebaikan kita sendiri.
Yang kedua, kita jangan sampai membiarkan diri terlantar, kita mempunyai kewajiban bukan hanya terhadap orang lain, melainkan juga terhadap diri kita sendiri. Kita wajib untuk mengembangkan diri. Membiarkan diri terlantar berarti bahwa kita menyia-nyiakan bakat-bakat dan kemampuan-kemampuan yang dipercayakan kepada kita. Sekaligus kita dengan demikian menolak untuk memberikan sumbangan kepada masyarakat yang boleh diharapkannya dari kita.
Kesimpulan
Memiliki prinsip moral bagi setiap orang adalah suatu kewajiban karena disaat seseorang telah memiliki prinsip moral yang kuat maka pribadi orang tersebut juga akan sama kuatnya. Orang tersebut pasti akan dengan mudah menjalin hubungan sosial dengan lingkungan disekitarnya. Karena orang tersebut dapat menghormati dirinya sendiri, menghormati orang lain, menghargai pendapat, dan saling bantu membantu dengan orang-orang disekelilingnya. Maka itu pentingnya prinsip moral untuk membangun pribadi yang kuat sangatlah dibutuhkan oleh setiap manusia agar dirinya tidak mudah terbawa oleh pengaruh buruk dari dalam maupun luar masyarakat lainnya.
Referensi
http://prinsip-prinsipmoral.blogspot.com/
DENDRY RENOVALDIO
12113164
1KA07
Jumat, 06 Juni 2014
Minggu, 11 Mei 2014
Membentuk Manusia Budaya
Membentuk
Pola Pikir Manusia Budaya
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmah, taufiq serta hidayah-Nya sehingga
penulis bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Peran Budaya Dalam
Membentuk Pola Pikir Manusia” yang merupakan salah satu tugas pertama dari mata
kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Dalam tugas
makalah ini membahas mengenai mengidentifikasikan tulisan, latang belakang,
tujuan, manfaat bagi pembaca, membuat kesimpulan, dan saran dalam makalah.
Serta disusun berdasarkan dengan materi-materi yang ada dan berdasarkan
kejadian serta aktifitas masyarakat Indonesia pada setiap harinya.
Materi-materi yang dibuat bertujuan agar pembaca nantinya bisa lebih memahami
hubungan antara manusia dan kebudayaan yang ada saat ini.
Penulis
menyadari bahawa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan atas segala
kekurangannya. Dan penulis pun berharap semoga makalah ini dapat menambah ilmu
pengetahuan bagi semua, dan akhir kata penulis berharap bahwa yang akhirnya
nanti makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang membacanya.
Depok, 11 MEI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada zaman era
globalisasi ini banyak sekali terjadinya perkembangan dalam suatu kehidupan
manusia pada sehari-harinya, termasuk dalam hal kebudayaan manusia. Manusia
tidak akan terlepas dari budaya pada setiap harinya yang mereka lakukan untuk
menyempurnakan suatu kebutuhan hidupnya dengan berbagai cara yang berbeda-beda.
Dalam kurung
waktu 1 tahun manusia akan menemukan sebuah kebudayaan yang baru entah itu dari
luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri, dan dalam seketikapun kebudayaan
itu akan berubah dan tersebar luaskan melalui media cetak maupun media
elektronik. Oleh karena itu disini penulis akan menjelaskan akan berbagai hal
mengenai Peran Budaya Dalam Membentuk Pola Pikir Manusia.
1.2 Tujuan Penulisan
Pada tugas
makalah ini bertujuan agar para pembaca nantinya bisa memahami pengertian dari
budaya dan hubungan manusia dengan kebudayaan, dan memahami bahwa manusia tidak
bisa terlepas dari kebudayaan pada setiap harinya.
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Dalam ruang
lingkup masalah ini dapat dilihat dalam setiap aktifitas antara hubungan
manusia dengan kebudayaan yang dilakukan setiap harinya.
1.4 Metodologi Penulisan
Metode yang
digunakan adalah metode deskripsi analisis. Yang dimaksud dengan metode
deskripsi analisis adalah metode yang memberikan gambaran-gambaran secara
objektif, menguraikannya serta membahasnya secara lengkap tentang pembuatan
makalah yang berjudul “Peran Budaya Dalam Membentuk Pola Pikir Manusia”.
1.5 Sistematika Penulisan
Adapun
sistematika penulisan dalam project ini yaitu :
·
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi
latar belakang penulisan, tujuan penulisan, ruang lingkup masalah, metodologi penulisan,
dan sistematika penulisan.
·
BAB II PEMBAHASAN
Pada Bab ini
yang akan membahas dari segi pengertian budaya dan segala hal yang berkaitan
dengan Peran Budaya Dalam Membentuk Pola Pikir Manusia.
·
BAB III PENUTUP
Bab ini
terdapat kesimpulan dari keseluruhan isi makalah ini serta saran bagi penulis
untuk pembaca.
·
DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka
berisi sumber-sumber materi yang di ambil untuk membuat makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Budaya
Budaya adalah
suatu kegiatan rutinitas yang dilakukan berulang-ulang setiap harinya pada
sebuah kelompok dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Dan budaya
juga terbentuk dari berbagai unsur salah satunya yaitu dari Politik, Agama, dan
Adat Istiadat disetiap daerah dari berbagai penjuru dunia. Tidak hanya itu saja
mulai dari cara berpakaian, musik, tarian, makanan, tempat tinggal (rumah) yang
ditempati, dan juga bahasa yang kita digunakan sehari-hari. Dan seperti yang
kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan terlepas dari
beberapa hal tersebut yaitu dari bahasa yang digunakan sehari-hari, desain
rumah yang digunakan pada suatu daerah tertentu, cara berpakaian yang
berbeda-beda pada setiap daerah. Ada pun juga beberapa masyarakat yang
kesulitan akan memahami kebudayaan lain saat mengunjungi suatu daearah yang
berbeda, terutama di negara Indonesia yang terkenal dengan berbagai macam
kebudayaan yang terdapat didalamnya. Jadi tidak heran semua masyarakat di
Indonesia memahami atau mengerti disuatu wilayah dengan kebudayaan yang
berbeda-beda.
Pengertian kebudayaan
Dalam hubungan yang khass itu, manusia mengungkapkan kesadaran dan kebebasannya kedalam alam mamterial. Ia adalah makhluk budaya. Maka Kebudayaan dapat di identifikasikan sebagai hasil pengungkapan manusia ke dalam materi sejauh di terima dan dimiliki oleh suatu masyarakat dan menjadi warisanya. Kata materi harus di mengerti dalam arti luas, Sehingga Mencakup juga badan dan relasi-relasi dengan orang lain
Pengertian kebudayaan
Dalam hubungan yang khass itu, manusia mengungkapkan kesadaran dan kebebasannya kedalam alam mamterial. Ia adalah makhluk budaya. Maka Kebudayaan dapat di identifikasikan sebagai hasil pengungkapan manusia ke dalam materi sejauh di terima dan dimiliki oleh suatu masyarakat dan menjadi warisanya. Kata materi harus di mengerti dalam arti luas, Sehingga Mencakup juga badan dan relasi-relasi dengan orang lain
Dalam aktifitas sehari-hari kebudayaan tak akan lepas dengan
hubungan masyarakat dan Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski
menamakan hal tersebut dengan istilah Cultural-Determinism yang artinya
segala sesuatu yang ada dalam masyarakat itu ditentukan oleh kebudayaan yang
dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Ada pun yang beberapa pendapat lainnya
yaitu :
·
Herskovits memandang suatu kebudayaan sebagai segala sesuatu
yang bersifat turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya, yang
kemudian disebut sebagai superorganic.
·
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mencakup dari beberapa aspek
kehidupan yaitu: sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain.
·
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan
yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat.
·
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
2.2 Komponen Biaya
Ada pun
beberapa komponen dalam budaya di antaranya yaitu :
·
Material
Dalam komponen
ini mengarah pada sebuah benda atau segala hal yang nyata di ciptakan oleh
manusia (konkret). Komponen ini berupa barang-barang yang digunakan oleh
manusia pada setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti rumah,
pakaian dsb.
·
Non material
Pada aspek ini
kebudayaan non material berupa buatan manusia yang sifatnya abstrak yang di
wariskan dari generasi ke generasi, dan kebudayaan non materi ini bias juga di
dapatkan dari sekolah karena yang di maksud non material itu seperti
cerita-cerita (sejarah) pada suatu daerah, dongeng, maupun lagu tradisional.
·
Lembaga sosial
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier
·
Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
·
Estetika
Estetika budaya
merupakan suatu tingkah laku atau tradisi yang dilakukan pada masyarakat di
daerah itu sendiri, seperti di Indonesia pada setiap daerahnya memiliki suatu
estetika budaya yang berbeda-beda misalnya dalam seni budaya, musik, dongeng,
dan tari-tarian.
·
Bahasa
Bahasa juga
disebut budaya, disamping itu karena bahasa juga digunakan untuk berkomunikasi
dalam aktifitas sehari-hari, terutama di Indonesia terdapat 746 bahasa daerah
yang tersebar dari sabang sampai marauke. Tidak hanya di Indonesia saja
diberbagai negara lainnya pun demikian, menggunakan bahasa untuk memudahkan
berbagai macam aktifitas dalam sehari-hari. Dan juga bahasa memiliki sifat unik
dan komplek, karena hanya dapat dimengerti oleh masyarakat sekitar saja atau
dalam satu lingkup daerah saja, jadi belum tentu masyarakat yang tinggalnya
berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya itu bias mengerti dan memahami
bahasa tersebut.
2.3
Hubungan Antara Manusia Dengan Budaya
Ada banyak
alasan mengapa bisa dikatakan manusia itu tidak bisa dilepaskan dari suatu
kebudayaan atau manusia itu selalu dihubungkan dengan kebudayaan, dan hamper
setiap aktifitas yang dilakukan manusia adalah sebuah kebudayaan. Dari
sehari-hari mereka melakukan berbagai rutinitas yang sama disuatu tempat kerja,
sekolah, kampus, dsb. Serta dalam berbagai kebudayaan yang dilakukan pada
setiap manusia dapat menerapkan suatu budaya untuk taat pada aturan yang telah
ditetapkan pada suatu tempat.
Walaupun pada
awalnya ada beberapa peraturan yang dibuat untuk dipatuhi oleh manusia karena
banyaknya suatu tingkah laku manusia yang tidak layak untuk dilihat atau
dicontoh oleh masyarakat yang berada disekitar. Ada pun yang diungkapkan
dari para ahli antropolog yang menyatakan bahwa kebudayaan itu justru merupakan
“alam manusia” dan semua manusia memiliki kemampuan untuk menyusun
pengalamannya sendiri, menterjamahkan penyusunan ini
secara simbolis berkat kemampuan berbicara dan mengajar paham
tersebut kepada manusian lainnya. Karena manusia mendapati kebudayaan lewat
proses belajar enkulturisasi dan sosialisasi, dan dari kecil
sudah mengetahui apa-apa saja yang dilakukan oleh orang tuanya dalam kegiatan
sehari-hari, jadi manusia akan terbiasa dengan apa yang dilihatnya dan
melakukannya secara berulang-ulang. Orang yang tinggal di tempat yang berbeda
atau keadaan yang berbeda, mengembangkan kebudayaan yang berbeda. Para
antropolog juga mengemukakan bahwa melalui kebudayaan, orang dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungannya secara atau mendapatkan dari lingkungan dan pergaulan
sekitar (non-genetik), sehingga orang yang tinggal di lingkungan yang berbeda
sering akan memiliki kebudayaan yang berbeda. Teori antropologi
terutama berasal dari kesadaran dan minat masyarakat akan perselisihan antara
segi lokal (kebudayaan tertentu) dan global (kemanusiaan secara umum, atau
jaringan hubungan antara orang di tempat atau keadaan yang berbeda) yang
terdapat di suatu daerah tertentu atau dearah lainnya.
2.4
Cara Budaya Membentuk Pola Pikir Manusia
Manusia
memiliki cara pandang yang berbeda sesuai dengan apa yang mereka dapat dari
kebudayaan masing-masing, yang dimaksud dengan kebudayaan masing-masing itu
berdasarkan asal tempat tinggal mereka, kepercayaan mereka, pandangan politik
yang mereka pelajari. Sehingga tidak semua manusia itu sama dari cara berfikir
mereka, maka dari itu manusia memiliki tingkah laku yang berbeda dan gaya hidup
yang berbeda pula, karena manusia terbagi atas berbagai suku yang tersebar di
berbagai belahan dunia dan khususnya di Indonesia sebagai negara yang memiliki
banyak kebudayaan.
Saat ini banyak
berbagai peran manusia yang digunakan untuk mencerminkan kepribadian
masing-masing, ada yang positif ada pula yang negatif, hal itu dapat di peroleh
manusia dengan cara bagaimana mereka dapat menilai suatu yang baik dan buruk
dan menganbil suatu keputusan yang tepat dalam memilih suatu tindakan yang akan
di kerjakan nantinya. Seperti sekarang banyak kasus yang terjadi akibat ulah
manusia itu sendiri, ada yang bernilai positif dan negatif itu tergantung
bagaimana cara masyarakat membentuk suatu kebudayaan masing-masing. Sebagai
contohnya banyak masyarakat melakukan suatu kegiatan positif pada setiap minggu
di daerah sekitar rumahnya dengan cara melakukan gotong royong untuk
membersihkan lingkungan untuk kepentingan bersama-sama, hal tersebut di katakan
sebagai kebudayaan karena sudah menjadi rutinitas mereka pada setiap pekan
untuk berjanji membuat suatu kegiatan dan membuat suatu tata tertib dalam
lingkungannya.
Dan juga ada
beberapa masyarakat yang membentuk suatu kebudayaan buruk di lingkungan atau di
dearahnya, karena beberapa masyarakat yang kurang peduli akan keadaan dan
situasi lingkungannya. Hal ini menyebabkan timbulnya sebuah konflik yang ada di
lingkungan sekitar seperti pertengkaran antar tetangga atau peperangan antar
daerah yang menimbulkan perpecahan darah antara satu sama lainnya, dan tidak
peduli dengan anak sendiri yang tidak melihat bagaimana perkembangan anaknya hingga
tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral dan tidak patut di contoh untuk anak
seusianya. Hal seperti ini juga dikarenakan sifat orang tua yang keras tidak
memandang anaknya hingga nantinya anak tersebut akan mencontoh sifat dan
karakter orang tuanya, karena hal tersebut di nilai baik. Saat ini marak sekali
terjadinya berbagai perpecahan khususnya antara pelajar, hal tersebut di
karenakan tumbuhnya suatu kebudayaan yang buruk di dalam lingkungannya.
Sifat
kepedulian antar sesama manusia itu memang sangat penting untuk saling menjaga
dan saling menghormati satu sama lain dalam menjalin sautu hubungan yang erat
agar tidak menimbulkan suatu konflik, karena ada beberapa manusia yang tidak
dapat menerima suatu unsur budaya dari daerah lain yang timbul perbedaan hal
seperti ini sangat berbahaya untuk di lihat khususnya kepada generasi muda,
karena ketidakpahaman suatu budaya lain dan kurangnya pemahaman suatu budaya
berbeda yang belum pernah di lihat sampai saat ini.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari tulisan
makalah di atas dapat di simpulkan bahwa manusia memang tidak akan terlepas
dari suatu kebudayaan. Dan kebudayaanlah yang membentuk suatu pola pikir
manusia, dan suatu kebudayaan itu tidak hanya di dapatkan hanya dari daerah
asal manusia itu lahir, dan tinggal untuk hidup di sana. Akan tetapi sebuah
kebudayaan itu juga bisa di dapatkan melalui pergaulan dan lingkungan yang di
singgahi, dari situlah manusia dapat menilai suatu keputusan yang tanggapi
untuk menjadi suatu patokan hidup.
3.2 Saran
Dapat di
sarankan bahwa banyak sekali kebudayaan di berbagai negara, dan itu sebabnya
manusia ada yang menerima dan tidak menerimanya suatu kebudayaan yang lahir,
karena bisa saja dalam waktu 1 hari muncul kebudayaan baru di suatu negara maka
dari itu kita harus menyikapi dengan seksama dan tidak mengambil tindakan yang
gegabah dalam mengambil suatu tindakan karena bila salah mengambil tindakan
akan menimbulkan suatu masalah dan dapat merugikan orang lain. Dan mulai dari
sejak dini untuk mengenalkan suatu kebudayaan daerah yang ada di negara
Indonesia khususnya untuk generasi muda agar dapat memahami budaya-budaya dari
berbagai daerah agar bisa menerima suatu kebudayaan yang berbeda dan
mempelajarinya bersama.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi_budaya (Tanggal 12 MEI 2014)
NAMA : DENDRY RENOVALDIO
KELAS : 1KA07
NPM : 12113164
NAMA : DENDRY RENOVALDIO
KELAS : 1KA07
NPM : 12113164
Senin, 07 April 2014
Perkembangan Budaya Lokal di Perguruan Tinggi
Perkembangan
Budaya Lokal di Perguruan Tinggi
Pendahuluan
Latar Belakang
Perguruan tinggi merupakan salah satu tempat dimana budaya lokal dapat juga
dikembangkan. kebudayaan yang lahir dari setiap pembelajaran di perguruan
tinggi akan membuat suaru perkembangan yang baru dalam kebudayaan. Karena pada
dasarnya perguruan tinggi adalah tempat dimana generasi-generasi muda
akan meneruskan atau melanjutkan pendidikannya setelah meraka lulus dari
Sekolah Menengah Atas. Di tempat seperti inilah budaya lokal dan juga seni
budaya Indonesia harus dikembangkan dan dilestarikan oleh para
generasi muda agar tetap terus berkembang dan juga agar merekaminimal mengenal
dan tau budaya lokal dan juga seni budaya dari daerahnya masing-masing.
Budaya lokal biasanya didefinisikan
sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. budaya lokal
adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak
mudah untuk merumuskan atau mendefinisikan suatu konsep budaya. kebudayaan
hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas
PENGEMBANGAN BUDAYA LOKAL DI PERGURUAN TINGGI
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah dijelaskan diatas maka masalahnya adalah :
Bagaimana pengembangan
ilmu budaya local berpengaruh di perguruan tinggi
Apa
dampak negativ bagi perguruan tinggi?
Tujuan Penulisan
Penulis bertujuan untuk
mendapat sebuah ilmu yang baru dan membagi ilmu-ilmu yang membaca artikel yang
ditulis oleh penulis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengmbangan
Budaya Di Perguruan Tinggi
Kebudayaan di dalam
perguruan tinggi sangatlah beragam.Seperti memainkan sebuah aransemen music
modern yaitu punk,rock,metal,reggae,R&B soul dll, Terkadang kita sering
lupa akan adanya kebudayaan music yang ada di Indonesia,seperti music
tradisional yaitu gamelan,tanjidor,karapitan/sinden dlll.didalam perguruan
tinggi sendiri jarangnya kegiatan mahasiswa yang memainkan sebuah aransemen
music tradisional,karena bagi mahasiswa tersebut music itu terlalu kuno.
Apa negative bagi
kebudayaan tradisional ? mungkin kebudayaan local mungkin akan punah dan
mungkin hanya dapat diceritakan tanpa tidak bias dilihat pertunjukannya dan
tidak bisa didengar bagaimana music tradisional tersebut.
Didalam perguruan tinggi
diajarkan untuk memecahkan masalah seperti berfikiran kreatif, dan
belajar cara memecahkan masalah. Terdapat beberapa perkumpulan di dalam
perguruan tinggi, membuat aransemen seperti Popcorn (pop keroncong)disitu
mereka tidak hanya memainkan music pop tapi digabung dengan music keroncong dan
menjadi sebuah aransemen yang baru,dan enak didengarkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas
saya membuat kesimpulan bahwa budaya local jangan sampai ditinggalkan karena
dapat menghilangkan suatu identitas suatu bangsa itu sendiri,mungkin peran
mahasiswa menjaga kelestarian budaya local dan mempelajari budaya local dan dapat
diajarkan kembali kepada anak cucu kita nanti.
Keseimpulan
Di dalam perguruan tinggi bertanggung
jawab mengembangkan kebudayaan lokal dari masing masing daerah tempat
berada.dan banya cara untuk memperkembangkan budaya di dalam lingkungan
perguruan tinggi maksudnya mahasiswa atau siapapun yang termasuk di dalam
kawasan sebuah salah satu perguruan tinggi harus bisa memberikan sesuatu karya
atau kreastifitas dalam memperkembangkan suatu kesinian atau kebudayaan. dan
perguruan tinggi seharusnya memiliki misi untuk mengembangkan perdidikan dan
kebudayaan. perkembangan kebudayaan atau kesenian di daerah masing masin
perguruan tinggi perlu memperlibatkan kerja sama dengan media masa dan
elektronik untuk mengembangkan sesuatu kebudayaan dan kesenian yang di buat
DAFTAR PUSTAKA
http://www.4shared.com/file/d3WZ0FS9/makalah_ilmu_sosial_budaya_das.html?cau2=403tNull&ua=WINDOWS
REFERENSI
Prasetya, Joko Tri., Drs. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta
Yoeti, Oka A. 1985. Budaya Tradisional yang Nyaris Punah. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
TANGGAL REFERENSI 1 – 4 – 2014
Langganan:
Postingan (Atom)